Belajar Menulis Dari AI “Artificial Intellegence”

Kagum Akan Kecerdasan Buatan AI

Ini terasa aneh. Sesuatu yang bahkan tidak akan saya bayangkan di masa remaja saya dulu. Sebagai orang yang sudah mulai masuk usia setengah tua, 35 tahun usia umur. Tentu saya mengalami dengan baik perkembangan jaman. Saya menjumpai jamannya petromax, dan telpon umum yang dulu di letakan di pinggir jalan. Saya juga remaja di jaman nya handphone, dari masa siemens C35 sampai Nokia. Dan sekarang saya sudah setengah usia dengan android dan jaman nya internet, serta teknologi robot dengan kepintaran buatan.

Woww ! Sangat mengagumkan kemajuan teknologi. Yang paling mengejutkan dan sudah mulai terbukti akan mempengaruhi kehidupan manusia adalah kepintaran buatan atau AI “Artificial Intellegence”. Sebuah pengetahuan tentang ilmu komputer yang terfokus pada pengembangan kemampuan komputer untuk melakukan sesuatu yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.

Dulu anak-anak belajar pengetahuan membaca dan menulis. Seorang guru akan meminta muridnya mengarang cerita pendek agar membuat si anak mahir dalam merangkai kalimat-kalimat dengan baik. Menulis dan membaca membutuhkan kecerdasan dasar manusia. Bahkan setelah mampu membaca dan menulis, tidak semua anak akan mampu menulis cerita dengan baik. Ada yang memang memiliki bakat mengarang dan menulis. Namun ada juga yang kurang bakat dalam menulis sebuah cerita atau artikel.

Dan sekarang tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia dan juga bakat tersebut bisa di lahap dengan mudah oleh kecerdasan buatan AI. Komputer bahkan mulai menulis untuk manusia, dan mengajari manusia. Saya harus berkata apa? Bahkan jujur saja, saya mulai rajin belajar menulis dari AI. Walau tidak semua, tapi AI mengajari saya tulisan dasar dan pengetahuan umum. Biasanya saya akan meminta AI menulis untuk saya sebagai kerangka pengetahuan umum yang kemudian saya kembangkan. Mungkin kecerdasan juga membutuhkan kearifan atau kebijaksanaan “Wisdom”.

Kecerdasan Komputer VS Kebijaksanaan Manusia

Kecerdasan dan kebijaksanaan adalah dua konsep yang berbeda, meskipun keduanya berkaitan dengan pemahaman, penilaian, dan pengambilan keputusan. Berikut adalah perbedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan:

  1. Kecerdasan:

    Definisi: Kecerdasan merujuk pada kemampuan seseorang untuk memahami, belajar, mengasimilasi pengetahuan, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan situasi baru.

    Sifat: Kecerdasan seringkali diukur dengan tes kecerdasan seperti tes IQ yang mengukur kemampuan kognitif seseorang.

    Aspek Kognitif: Kecerdasan lebih cenderung berfokus pada aspek-aspek kognitif seperti pemecahan masalah matematis, berbicara, berpikir logis, dan memproses informasi.

    Peningkatan: Kecerdasan bisa meningkat melalui pembelajaran, pelatihan, dan pengalaman.

  2. Kebijaksanaan:

    Definisi: Kebijaksanaan mengacu pada kemampuan seseorang untuk membuat keputusan yang bijak dan berkualitas, memahami implikasi jangka panjang dari tindakan, dan memiliki penilaian yang baik dalam berbagai situasi.

    Sifat: Kebijaksanaan lebih terkait dengan pengalaman hidup, penerimaan, penilaian moral, dan empati.

    Aspek Empatis: Kebijaksanaan sering mencakup aspek empati, emosi, dan moral, serta pengetahuan yang mendalam tentang manusia dan dunia sekitarnya.

    Peningkatan: Kebijaksanaan sering berkembang dengan pengalaman hidup, belajar dari kesalahan, dan introspeksi.

Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa kecerdasan lebih bersifat kognitif dan berfokus pada pemahaman dan analisis, sedangkan kebijaksanaan lebih bersifat emosional dan moral, berkaitan dengan pengambilan keputusan yang bijaksana dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Penting untuk diingat bahwa seseorang dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi tetapi mungkin kurang bijaksana dalam pengambilan keputusan. Kebijaksanaan seringkali memerlukan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai, etika, dan implikasi sosial dari tindakan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya seringkali saling melengkapi, dan idealnya, kita akan berusaha untuk menggabungkan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan.

Komputer mungkin bisa mengembangkan kecerdasan buatan, bahkan bisa jadi lebih hebat dari manusia pada aspek tertentu. Namun Komputer tidak akan memiliki kebijaksanaan. Kebjaksanaan berkat pengalaman. Kebijaksanaan bersifat emosional. Mesin Kalkolator mungkin bisa menjawab perkalian dengan cepat dan benar, namun tentunya dia tidak mampu menawar ikan yang harganya 10ribu sekilo menjadi 18ribu jika di beli 2kilo oleh ibu-ibu di pasar. Kalkolator akan berkata 2 kilo berarti 20ribu bukan 18ribu.

Bahasa Tulisan AI Kaku dan Terlalu Formal

Walau AI itu mampu menulis artikel dengan baik, namun karena tidak memiliki kebijaksanaan. Itu kenapa bahasa yang digunakan oleh AI adalah bahasa baku dan formal. Tidak akan kita temukan tulisan AI kata typo atau salah menempatan kata. AI mungkin tidak akan menggunakan istilah sarkas dan lelucuan dalam artikel yang dibuatnya. Namun keberadaan AI sangat membantu dalam menulis informasi umum dan penggunaan bahasa yang benar. Karena itulah AI juga sering saya gunakan sebagai kerangka tulisan karena is poin pentingnya hampir sempurna. Tinggal penambahan sana-sini. Kecerdasan buatan jika digabungkan dengan kebijaksanaan manusia, hasilnya?….

To top